PENGGUNAAN
DEIKSIS DALAM KUMPULAN CERPEN BH
KARYA EMHA AINUN NADJIB
Sinta, Patriantoro, Amriani Amir
Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia FKIP Untan Pontianak
Abstract
This study was latinned by the desire to find, form,
meaning of leksikal, and semantic function, deiksis person, deiksis place, and
the time in the form shrot story of Emha Ainun Nadjib. This study is designed
to describe the form, the meaning of leksikal, and the semantic function of the
deiksis person, deiksis place, and the deiksis of the time found in the form a
collection of shrot story BH by Emha Ainun Nadjib. Researchers are using
qualitative forms of descriptive method in doing this research. The data in
this study is the deiksis persona, the deiksis of the place, and the deiksis of
the time that is found in the short story. The source of the data in this study
is 23 short stories in the by of Emha Ainun Nadjib. Data collection techniques
in this study using a documentary technique. The instrument of this study is
done by taking notes of data which are the sentences that contain deiksis
person, the deiksis place, and the deiksis of time.
Key word: Pragmatic, Use of Deiksis
PENDAHULUAN
Deiksis merupakan
salah satu kajian yang terdapat
dalam pragmatik. Deiksis bisa mengambarkan dengan baik tentang sebuah prinsip
dalam pragmatik, yaitu semakin banyak hal yang sama-sama diketahui oleh dua
orang yang saling bicara, semakin sedikit kata-kata yang harus mereka ungkapkan
untuk berkomunikasi. Purwo (1984:1) menyatakan bahwa, “Sebuah kata dikatakan
bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti,
tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan
tempat dituturkannya kata itu. Lahirnya
sebuah cerpen tidak terlepas dari deiksis persona, tempat, dan waktu, karena
dalam sebuah cerpen mengandung unsur persona, tempat, dan waktu yang
disampaikan oleh pengarang.
Deiksis persona dapat
digambarkan dengan kata ganti orang, mulai dari kata ganti persona tunggal dan
jamak misalnya, aku, saya (tunggal) dan kami (jamak). Deiksis tempat dalam
cerpen dapat digambarkan dengan lokasi atau suasana yang dialami oleh tokoh
misalnya di sana, di sini, dan di situ. Deiksis waktu dalam cerpen dapat
digambarkan dengan kapan kejadian yang dialami oleh tokoh misalnya, sekarang,
nanti, dan yang akan datang.
Cerpen merupakan cerita pendek
yang berbentuk prosa yang mengisahkan kehidupan manusia yang didalamnya
mengandung konflik atau pertikaian, namun tidak mengubah nasib tokoh. Walaupun
singkat di dalam cerpen terdapat latar yang berisi latar tempat, latar waktu
dan latar suasana dalam cerita. Cerpen juga mengisahkan kehidupan manusia
secara utuh dari awal sampai akhir sehingga pembaca bisa mendapatkan informasi
secara lengkap tentang gambaran kehidupan serta permasalahan yang terjadi pada
tokoh. Selain sebagai hiburan, cerpen juga sarat akan nilai dan pesan yang
ingin disampaikan oleh penulis kepada masyarakat sebagai cermin hidup sehingga
dapat berinteraksi dan bersikap lebih bijak.
Buku kumpulan cerpen BH merupakan kumpulan cerpen yang
ditulis oleh Emha Ainun Nadjib antara tahun 1977 sampai 1982. Emha Ainun Nadjib
atau yang sering dipanggil dengan Cak Nun merupakan seorang sastrawa Indonesia
yang telah melahirkan banyak karya. Emha juga dikenal sebagai seniman,
budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku
yang ditulisnya.
Kumpulan cerpen BH merupakan sebuah cerpen yang sarat
akan makna kehidupan sosial, serta sindiran-sindiran terhadap kehidupan sosial
masyarakat yang dikemas dengan bahasa yang menarik. Bahasa yang digunakan dalam
cerpen tersebut sangat lugas dan menggelitik dan seperti tamparan keras bagi
yang membacanya. Melalui cerpen tersebut kita diajak untuk berpikir lebih keras
untuk memahami pesan yang ingin disampaikan karena dalam cerpen tersebut
ditulis dengan bahasa yang sulit untuk dipahami. Cerpen tersebut
dikumpulkan dari berbagai sumber yaitu kompas, sinar harapan, horizon dan zaman.
Adapun judul dari buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku
itu dengan judul yang sama yaitu BH pada cerpen yang ke-18. Ada 23 cerpen yang
terdapat dalam buku kumpulan cerpen BH, yaitu Lelaki ke-1.000 di Ranjangku
(1982), Kepada
Kelahiranku yang Tercinta (1979), Cerpen Padang Kurusetra (1981), Pesta (1977), Satu
Truk Pasir (1979), Sembilan Putra-putri Anugrah Tuhanku (1982), Yang Terhormat
Nama Saya (1980), Terjemahan di bumi (1979), Ambang (1978), Tangis (1978),
Mimpi Istriku (1979), Lingkaran Dinding (1979), Kepala Kampung (1979), Ijazah
(1980), Seorang Gelandangan (1980), Stempel (1980), Podium (1980), BH (1980),
Jimat (1980), Di Belakangku (1980), Jabatan (1980), Luber (1981) dan Domino
(1982).
Implementasi
penelitian ini dapat dilakukan melalui penerapan kurikulum 2013 mata pelajaran
bahasa indonesia. Implementasi ini diterapkan pada jenjang Sekolah Menengah
Atas (SMA) kelas XI semester ganjil dengan KD 3.3 Mengidentifikasi informasi
(pengetahuan dan urutan kejadian) dalam teks eksplanasi secara lisan dan tulis.
Kemampuan yang difokuskan adalah siswa mampu mengidentifikasi informasi
(pengetahuan dan urutan kejadian) dalam teks eksplanasi secara lisan dan
tulisan.
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie yang berasal dari bahasa
Yunani morphe yang digabungkan dengan
logos. Morphe berarti bentuk dan logos berarti ilmu. Morfologi adalah ilmu pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem
yang satu dengan yang lain. Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang
mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian
bermakna yang lebih kecil. Morfem bebas adalah morfem yang secara potensial
dapat berdiri sendiri dalam suatu bangun kalimat, misalnya saya, duduk, dan
kursi. Morfem terikat adalah morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri
sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran,
misalnya ber-, meng-, -kan, ter-, wan, man, dan sebagainya. Prokliti dan
enkitik termasuk dalam morfem terikat karena tidak bisa berdiri sendiri
Kata adalah suatu unit dari suatu
bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Bloomfield
(dalam Muhadjir 2016:65) mengatakan bahwa, “Kata
adalah bentuk bebas terkecil yang mengandung makna”. kata adalah satuan
terkecil dalam kalimat yang mengandung makna sehingga dapat berdiri sendiri. Berdasarkan pada
klasifikasi jenis kata, promina
memiliki hubungan dengan deiksis karena sama-sama merupakan kata ganti baik itu
kata ganti orang maupun benda. Chaer
(2011:91) mengatakan bahwa, Kata benda yang menyatakan orang sering kali
diganti kedudukannya di dalam pertuturan dengan sejenis kata yang lazim disebut
kata ganti.
Istilah deiksis berasal dari kata
Yunani deiktikos, yang berarti ‘hal
penunjukan secara langsung’. Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa, Sebuah kata
dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau
berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung
pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Pengertian deiksis yang lain
dikemukakan oleh Lyons (dalam Djajasudarma, 2010:51) menjelaskan bahwa, Deiksis
adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan
yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi
ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak
bicara. Menurut Cummings (2007: 31) Setiap penjelasan makna dari ujaran-ujaran
pada hakikatnya tergantung pada acuan dieksis pada ciri-ciri tertentu suatu
konteks.
Ungkapan-ungkapan deiksis kadang kala juga disebut indeksikal
(Yule,2014:13). Ungkapan-ungkapan tersebut dapat menunjukan orang dengan
deiksis persona (‘ku’, ‘mu’), atau untuk menunjukan tempat dengan deiksis
spesial (‘di sini’, ‘di sana’) atau untuk menunjukkan waktu dengan deiksis
temporal (‘sekarang’, ‘kemudian’).
Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata,
frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang
menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.
Kata
“klitika” bila dianalisa berasal dari kata kerja bahasa Yunani ‘klinein’ yang artinya “bersandar.
Menurut Verhaar, klitika dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik.
Proklitika adalah klitika pada awal kata dan enklitika terdapat pada akhir
kata. Karena semua klitika didekatkan pada kata sebagai ko-konstituennya
(konstituen yang menyertainya) (Verhaar, 1993, 61-62). Istilah klitik sering
dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena
itu selalu harus bersandar pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya.
Suatu klitik paling sedikit dapat berupa kata. Dalam pengertian disini klitik
selalu merupakan morfem terikat. Sebagai contoh klitik dalam bahasa Indonesia :
akhiran –lah, -kah, dan –pun. Meskipun, imbuhan tersebut mirip dengan afiks, jelas
berbeda karena dapat diletakkan pada macam-macam jenis kata (afiksasi selalu
merupakan cirri khas dari jenis kata tertentu, seperti kata benda atau kata
kerja).
Klitik
dibagi menjadi dua dalam pembentukan sebuah kata yaitu, proklitik dan enklitik.
Klitik merupakan bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata
karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa. Proklitik, merupakan
klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya, misalnya
bentuk ‘kau’dan ‘ku–’.
Leksikal
adalah satu di antara jenis kajian dari semantik. Jenis semantik yang mengkaji
arti leksikal kata-kata disebut semantik leksikal. Leksikal adalah bentuk
ajektif yang diturukan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata,
pembendaharaan kata). Subroto (2011:31) mengemukan bahwa, arti leksikal adalah
arti yang terkandung dalam kata-kata sebuah bahasa yang lebih kurang bersifat
tetap. Arti yang demikian biasanya digambarkan dalam sebuah kamus.
Fungsi
semantis atau peran semantis adalah aspek dinamis dari kedudukan atau status.
Seseorang melaksanakan hak dan kewajiban, berarti telah menjalankan suatu
peran. Setiap orang mempunyai bermacam-macam peran yang dijalankan dalam
pergaulan hidupnya di masyarakat. Peran menentukan apa yang diperbuat seseorang
bagi masyarakat. Peran juga menentukan kesempatan-kesempatan yang diberikan
oleh masyarakat kepadanya. Peran diatur oleh norma-norma yang berlaku.
Alwi, dkk.
(2014: 341–342) menyebutkan bahwa peran semantis meliputi pelaku, sasaran,
pengalam, peruntung, atribut dan keterangan. Pelaku adalah peserta yang
melakukan perbutan yang dinyatakan oleh verba predikat. Peran pelaku itu
merupakan peran semantis utama subjek kalimat aktif dan pelengkap kalimat pasif.
Sasaran
adalah peserta yang dikenai perbuatannya yang dinyatakan oleh verba predikat.
Peran sasaran itu merupakan peran utama objek atau pelengkap. Pengalam adalah
peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan predikat. Peran
pengalam merupakan peran unsur subjek yang predikatnya adjektiva atau verba
takransitif yang lebih menyatakan keadaan. Peruntung adalah peserta yang
beruntung dan yang memperoleh manfaat dari keadaan, peristiwa, atau perbuatan
yang dinyatakan oleh predikat. Partisipan peruntung biasanya berfungsi sebagai
objek, atau pelengkap, atau sebagai subjek verba jenis menerima atau mempunyai.
Atribut
adalam kalimat yang predikatnya nomina, predikat tersebut mempunyai peran
semantis atribut. Alwi, dkk. (2014: 221) mengatakan bahwa, nomina adalah kata
yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.
Terdapat peran semantis lain yang berfungsi sebagai
keterangan, seperti keteranggan waktu, keterangan tempat, keterangan alat, dan
keterangan sumber. Peran semantis yang berfungsi sebagai unsur subjek, objek,
dan pelengkap, tidak termasuk dalam fungsi semantis keterangan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa
fungsi semantis atau peran semantis dibagi menjadi pelaku, sasaran, pengalam,
peruntung, atribut, dan keterangan. Peran ini timbul berdasarkan nomina atau
kalimat. Peran semantis keterangan, yaitu kata yang mengandung keterangan
waktu, tempat, alat, dan sumber. Tetapi, peran semantis keterangan yang
dinyatakan sebagai unsur subjek, objek, dan pelengkap tidak termasuk dalam
fungsi semantis keterangan.
METODE
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi metode pengumpulan data dan analisis data. Bentuk
penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian
tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.
Data penelitian dikumpulkan dengan
metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah sebagai suatu cara pengumpulan
data yang diperoleh dari kumpulan cerpen BH
karya Emha Ainun Nadjib. Analisis
data untuk mendeskripsikan data menggunakan metode deskriptif. Penelitian
deskriftif digunakan untuk memecahkan masalah, jenis informasi yang digali
dengan penelitian deskriptif yaitu, study kasus, study korelasi, study
perbandingan, study evaluasi, study prediksi. Peneliti menggunakan menggunakan
metode analisis konteks kalimat atau konteks struktur gramatikal untuk
mengelompokkan dan melakukan penelitian mengenai deiksis persona, deiksis
tempat dan deiksis waktu.
Langkah
Pengumpulan Data
Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data yang
dilakukan penulis sebagai berikut. (1) Membaca buku kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib yang
dijadikan sumber data. (2) Menyeleksi kalimat yang menggunakan deiksis persona,
deiksis tempat, dan deiksis waktu. (3) Mengklasifikasikan kalimat yang
menggunakan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu. (4)
Menganalisis penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu.
Alat
Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut. (1) Peneliti sendiri sebagai instrument kunci. Peneliti
berkedudukan sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, penganalisis,
penafsiran data, dan pada akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian. (2) Kartu
data, digunakan untuk mencatat data-data yang merupakan kalimat-kalimat yang
mengandung deiksis persona, tempat, dan waktu. Hal ini untuk memudahkan
peneliti untuk mengingat data-data sesuai dengan masalah peneliti. (3) Alat
tulis, digunakan untuk mencatat sehingga memudahkan dalam pengumpulan data.
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data yang
dilakukan peneliti
sebagai berikut. (1) Menganalisis
data bentuk deiksis persona, tempat, dan waktu dalam kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib dengan
teknik pemaparan. (2) Menganalisis
data arti leksikal
deiksis persona,
tempat, dan waktu dalam kumpulan cerpen
BH karya Emha Ainun Nadjib dengan teknik
analisis makna konteks dalam kalimat. (3) Menganalisis
data fungsi semantik dengan teknik peran semantik. (4) Menyimpulkan
hasil analisis bentuk, arti leksikal, dan fungsi semantis.
HASIL PENELITIAN
dan PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian
Terdapat penggunaan deiksis persona tunggal bentuk
‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona pertama jamak bentuk
‘kita’ dan ‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’,
‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Deiksis
persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Deiksis
persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. Terdapat penggunaan deiksis tempat bentuk
proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Deiksis tempat distal bentuk
‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. Terdapat penggunaan
deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk
‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’
dan ‘lusa’ dalam kumpulan cerpen BH
karya Emha Ainun Nadjib.
Tabel 1
Penggunaan
Deiksis Persona, Tempat, dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib
|
No
|
Cerpen
|
Jenis Deiksis
|
Bentuk
|
Kalimat
|
|
1
|
Satu Truk Pasir
|
saya
|
morfem bebas
|
-
“Saya ingin
ganti tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48)
|
|
2
|
Jimat
|
kamu
|
Morfem bebas
|
-
“Kamu tahu
bahwa roh Gajah Mada nangkring di tanganmu itu oleh usaha pengetahuanmu
sendiri atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen ke-19, hlm 203)
|
|
3
|
Ijazah
|
ia
|
Morfem Bebas
|
-
“Ia ditangkap
polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
|
|
4
|
Jimat
|
sini
|
Morfem bebas
|
-
“Sepanjang perjalanan dari sini sampai menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata
pun terucap,” (cerpen ke-19, hlm 195)
|
|
5
|
Ijazah
|
sana
|
Morfem Bebas
|
-
Tapi paman saya di desa Gombong sana sudah menolong. (cerpen ke-14, hlm 156)
|
|
6
|
Satu Truk Pasir
|
Sekarang
|
Morfem Bebas
|
-
“Kita ke Code sekarang.”
(cerpen ke-5, hlm 45)
|
Arti
Leksikal Deisksi Persona, Tempat dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib
Arti leksikal bentuk ‘saya’ adalah kata ganti orang
pertama tunggal untuk menggantikan orang yang berbicara. Kata ganti persona
pertama tunggal bentuk ‘saya’ dapat digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi. Seperti yang terdapat dalam potongan kalimat di bawah ini.
-
“Pasir?” Pak Kodrat bertanya.
“Ya!” jawab Pak Gondo sambil dengan gagah turun dari
truknya.
“Mau dibawa kemana?”
“Ke mana? Ini telah sampai ke tujuannya!”
“Ada rencana baru rupanya?”
Pak Gondo tersenyum. “Saya
ingin ganti tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48)
Terdapat penggunaan deiksis persona pertama tunggal
bentuk ‘saya’ pada kalimat di atas. Bentuk ‘saya’ mengacu kepada endofora yang
anaforis, karena kata acuannya sudah di sampaikan sebelumnya. Kata ganti ‘saya’
merujuk kepada tokoh Pak Gondo. Bentuk ‘saya’ timbul ketika Pak Gondo
mengatakan kepada tetangganya Pak Kodrat bahwa ia ingin mengganti tembok kayu
rumahnya dengan tembok bata.
Arti leksikal ‘kamu’ adalah kata ganti yang digunakan
untuk orang kedua tunggal sebagai sapaan (dalam ragam akrab atau kasar).
Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-
“Ji, Ji,” tanya seorang teman, “kamu tahu bahwa roh Gajah Mada nangkring di tanganmu itu
oleh usaha pengetahuanmu sendiri, atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen
ke-19, hlm 203)
Terdapat penggunaan deiksis persona kedua tunggal bentuk
proklitik ‘kamu’ pada percakapan di atas. Bentuk ‘kamu’ mengacu kepada endofora
yang anaforis, karena acuannya ada dalam kalimat yang berada pada kata
sebelumnya. Kata ganti ‘kamu’ merujuk kepada tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ dipakai
karena teman itu sudah akrab dengan tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ timbul ketika
salah seorang teman Aji bertanya apakah tokoh Aji mengetahui ada roh Gajah Mada
di tangannya itu karena karena usahanya sendiri atau diberi tahu oleh Pak
Sampan.
Arti leksikal ‘ia’ adalah sebagai kata ganti untuk
merujuk orang yang dibicarakan, tidak termasuk pembicara dan kawan bicara.
Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-
“Aku tadi barusan ke rumah Hardi,” katanya sambil
berjalan, “ternyata nggak ada. Ia
ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
Terdapat penggunaan deiksis persona ketiga tunggal bentuk
‘ia’ pada potongan percakapan di atas. Bentuk ‘ia’ mengacu kepada endofora yang
anaforis, karena acuannya berada dalam teks yang disebutkan sebelumnya.
Pronomina ‘ia’ merujuk kepada tokoh Hardi. Bentuk ‘ia’ timbul ketika tokoh
Bambang sedang berbicara kepada tokoh ‘aku’. Bambang menceritakan bahwa ia tadi
pergi kerumah tokoh Hardi, tapi ternyata Hardinya tidak ada karena ditangkap
polisi dan ditahan di Jakarta.
Arti leksikal ‘sini’ merujuk kepada tempat (tempat yang
dekat dengan pembicara). Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di
bawah ini.
-
Akhirnya giliran kami tiba. Aji menyeretku mendekati Pak
Sampan. Aku tunduk, menaruh kedua tangan di atas paha, dan berusaha bersikap
seramah mungkin.
“Jadi berangkat?”
“Jadi Pak,” jawab Aji.
“Sepanjang
perjalanan, dari sini sampai
menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata pun terucap.” (cerpen ke-19,
hlm 195)
Terdapat penggunaan deiksis tempat proksimal bentuk
‘sini’ dalam potongan percakapan di atas. Bentuk ‘sini’ mengacu kepada
eksofora, karena acuannya berada di luar teks. Deiksis tempat ‘sini’ merujuk
rumah Pak Sampan. Bentuk ‘sini’ timbul ketika Pak Sampan menyuruh tokoh Aji
untuk tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari rumahnya
sampai menginjak gerbang Trowulan.
Arti leksikal ‘sana’ merujuk kepada tempat yang jauh
(atau dianggap jauh) dari pembicara. Seperti yang terdapat dalam potongan
percakapan di bawah ini.
-
“Dari dulu aku selalu ingin mendekati anak putri,”
katanya lagi. “Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tapi paman saya di desa
Gombong sana sudah menolong.
Menghubungkan aku dengan seorang putri. Aku juga sudah kirim tulisan-tulisanku
di koran dan majalah, juga piagam dan ijazah... sekarang saya sedang menunggu
suratnya. (cerpen ke-14, hlm 156)
Terdapat penggunaan deiksis tempat distal ‘sana’ pada
kalimat paragraf di atas. Bentuk ini mengacu kepada endofora yang anaforis,
karena acuannya berada dalam teks yang disampaikan sebelumnya. Deiksis tempat
distal ‘sana’ merujuk kepada desa Gombong. Bentuk ‘sana’ timbul ketika tokoh
Bambang mengatakan kepada tokoh ‘aku’ bahwa ia sudah lama ingin mendekati anak
perempuan tapi ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi sekarang pamannya yang
berada di desa Gombong sudah menolongnya untuk menghubungkan dengan seorang
perempuan.
Arti lesikal ‘sekarang’ digunakan untuk menyatakan waktu
saat ini atau kini. Seperti yang
terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-
Gondo beranjak tanpa peduli. Keluar warung. Segera
dipanggilnya Suhar, kernertnya.
“Ya Pak!”
jawab sang kernet. Loncat bangun ia dari kantuknya di bangku panjang samping
warung.
“Kita ke Code sekarang.”
“Ada angkutan?”
“Tidak! Kita
beli pasir!” (cerpen ke-5, hlm 45)
Terdapat penggunan deiksis waktu kini bentuk ‘sekarang’
pada potongan percakapan di atas. Bentuk ‘sekarang’ merujuk kepada waktu
sekarang atau saat itu juga. Bentuk ‘sekarang’ timbul ketika Gondo berbicara
dengan Suhar, kernetnya. Tokoh Gondo mengajak Suhar untuk pergi ke Code untuk
membeli pasir.
Fungsi Semantis
Deisksi Persona, Tempat dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib
-
“Pasir?” Pak Kodrat bertanya.
“Ya!” jawab
Pak Gondo sambil dengan gagah turun dari trunya.
“Mau dibawa
kemana?”
“Ke mana?
Ini telah sampai ke tujuannya!”
“Ada rencana baru rupanya?”
Pak Gondo
tersenyum. “Saya ingin ganti
tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48).
Fungsi semantis ‘saya’ pada kalimat di atas adalah
sebagai pelaku, karena merupakan subjek. Pelaku adalah peserta yang melakukan
perbuatan yang dinyatakan oleh verba predikat. Pronomina ‘saya’ merujuk kepada
tokoh Pak Gondo. Bentuk ‘saya’ timbul ketika Pak Gondo sedang berbicara kepada
Pak Kodrat, tetangganya. Pak Gondo mengatakan kepada Pak Kodrat bahwa ia ingin
mengganti tembok kayu rumahnya dengan tembok bata ketika Pak Kodrat bertanya
apa ia punya rencana baru.
-
“Ji, Ji,” tanya seorang teman, “kamu tahu bahwa roh Gajah Mada nangkring di tangganmu itu
oleh usaha pengetahuanmu sendiri, atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen
ke-19, hlm 203)
Fungsi semantis bentuk ‘kamu’ pada kalimat di atas adalah
sebagai pengalam, karena merupakan subjek. Pengalam adalah peserta yang
mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan predikat. Kata ganti persona
kedua ‘kamu’ merujuk kepada tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ timbul ketika salah
seorang teman Aji bertanya apakah tokoh Aji mengetahui ada roh Gajah Mada di
tangannya itu karena karena usahanya sendiri atau dikasih tahu oleh Pak Sampan.
-
“Aku tadi barusan ke rumah Hardi,” katanya sambil
berjalan, “ternyata nggak ada. Ia
ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
Fungsi semantis ‘ia’ pada kalimat di atas adalah sebagai
pengalam. Pengalam adalah peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa yang
dinyatakan predikat. Pronomina ‘ia’ merujuk kepada tokoh Hardi. Bentuk ‘ia’
timbul ketika tokoh Bambang sedang berbicara kepada tokoh ‘aku’. Bambang
menceritakan bahwa ia tadi pergi kerumah tokoh Hardi, tapi ternyata Hardinya
tidak ada karena ditangkap polisi dan di tahan di Jakarta.
-
Akhirnya giliran kami tiba. Aji menyeretku mendekati Pak
Sampan. Aku tunduk, menaruh kedua tangan di atas paha, dan berusaha bersikap
seramah mungkin.
“Jadi berangkat?”
“Jadi Pak,” jawab Aji.
“Sepanjang
perjalanan, dari sini sampai
menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata pun terucap.” (cerpen ke-19,
hlm 195)
Fungsi semantis ‘sini’ pada kalimat di atas merupakan
fungsi semantis keterangan tempat. Deiksis tempat ‘sini’ merujuk kepada rumah
Pak Sampan. Bentuk ‘sini’ timbul ketika Pak Sampan menyuruh tokoh Aji untuk
tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari rumahnya sampai
menginjak gerbang Trowulan.
-
“Dari dulu aku selalu ingin mendekati anak putri,”
katanya lagi. “Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tapi paman saya di desa
Gombong sana sudah menolong.
Menghubungkan aku dengan seorang putri. Aku juga sudah kirim tulisan-tulisanku
di koran dan majalah, juga piagam dan ijazah... sekarang saya sedang menunggu
suratnya. (cerpen ke-14, hlm 156)
Fungsi semantis ‘sana’ pada kalimat di atas merupakan
fungsi semantis keterangan tempat. Deiksis tempat distal ‘sana’ merujuk kepada
desa Gombong. Bentuk ‘sana’ timbul ketika tokoh Bambang mengatakan kepada tokoh
‘aku’ bahwa ia sudah lama ingin mendekati anak perempuan namun ia tidak tahu
bagaimana caranya, tapi sekarang pamannya yang berada di desa Gombong sudah
menolongnya untuk mengenalkannya dengan seorang perempuan, dan sekarang ia
sedang menunggu suratnya.
-
Gondo beranjak tanpa peduli. Keluar warung. Segera
dipanggilnya Suhar, kernertnya.
“Ya Pak!”
jawab sang kernet. Loncat bangun ia dari kantuknya di bangku panjang samping
warung.
“Kita ke Code sekarang.”
“Ada angkutan?”
“Tidak! Kita
beli pasir!” (cerpen ke-5, hlm 45)
Terdapat penggunan deiksis waktu kini bentuk ‘sekarang’
pada potongan percakapan di atas. Bentuk ini merujuk kepada waktu sekarang atau
saat itu juga. Deksis waktu kini bentuk ‘sekarang’ digunakan untuk menyatakan
waktu saat ini atau sekarang. Fungsi semantis ‘sekarang’ pada kalimat di atas
adalah fungsi semantis keterangan waktu. Bentuk ‘sekarang’ timbul ketika Gondo
berbicara dengan Suhar, kernetnya. Tokoh Gondo mengajak Suhar untuk pergi ke
Code untuk membeli pasir.
SIMPULAN dan
SARAN
Simpulan
Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa. (1)
Terdapat penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada
kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun
Nadjib. (a) Terdapat lima penggunaan deiksis persona pertama tunggal bentuk
‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Dua deiksis persona pertama jamak
bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Lima deiksis deiksis persona kedua tunggal bentuk
‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Satu deiksis persona kedua jamak
bentuk ‘kalian’. Empat deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’,
‘beliau’, dan ‘-nya’. Satu deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. (b)
Terdapat tiga penggunaan deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan
‘ke sini’. Tiga deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’.
(c) Terdapat dua penggunaan deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’.
Tiga Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Dua deiksis
waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’. (2) Arti leksikal deiksis
persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha
Ainun Nadjib. (a) Deiksis persona pertama tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’,
‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona pertama jamak bentuk ‘kita’ dan
‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’,
dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Deiksis persona ketiga
tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Deiksis persona ketiga jamak
bentuk ‘mereka’. (b) Deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke
sini’. Deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. (c)
Deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk
‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’
dan ‘lusa’. (3) Fungsi semantis deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis
waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (a) Deiksis persona
pertama tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona
pertama jamak bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk
‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk
‘kalian’. Deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan
‘-nya’. Deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. (b) Deiksis tempat bentuk
proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Deiksis tempat distal bentuk
‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. (c) Deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan
‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis
waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas,
dapat diperoleh saran sebagai berikut. (1) Pembaca diharapkan mampu memahami
penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan
cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (2) Pembaca diharapkan bisa membedakan
penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan
cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (3) Penelitian ini bagi mahasiswa dapat
dijadikan referansi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengunaan deiksis
persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu. (4) Penelitian ini hanya terbatas
pada penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu, oleh karena
itu, terbuka bagi mahasiswa lain untuk meneliti deiksis lain yang terdapat pada
kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib.
DAFTAR
RUJUKAN
Alwi,
Hasan, dkk.. 2014.
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Cummings,
Louise. 2007. Pragmatik Sebuah
Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Chaer,
Abdul. 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Djajasudarma,
Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman
Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.
Muhadjir.
2014. Semantik dan Pragmatik. Tangerang: Pustaka Mandiri.
Purwo,
Bambang Kaswanti. 1984.
Deiksis dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai
Pustaka.
Subroto, Edi. 2011.
Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik.
Surakarta: Cakrawala Media.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yule,
George. 2014. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.