Kamis, 04 April 2019

artikel skripsi penggunaan deiksis pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib


PENGGUNAAN DEIKSIS DALAM KUMPULAN CERPEN BH KARYA EMHA AINUN NADJIB
Sinta, Patriantoro, Amriani Amir
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Untan Pontianak
Abstract
This study was latinned by the desire to find, form, meaning of leksikal, and semantic function, deiksis person, deiksis place, and the time in the form shrot story of Emha Ainun Nadjib. This study is designed to describe the form, the meaning of leksikal, and the semantic function of the deiksis person, deiksis place, and the deiksis of the time found in the form a collection of shrot story BH by Emha Ainun Nadjib. Researchers are using qualitative forms of descriptive method in doing this research. The data in this study is the deiksis persona, the deiksis of the place, and the deiksis of the time that is found in the short story. The source of the data in this study is 23 short stories in the by of Emha Ainun Nadjib. Data collection techniques in this study using a documentary technique. The instrument of this study is done by taking notes of data which are the sentences that contain deiksis person, the deiksis place, and the deiksis of time.
Key word: Pragmatic, Use of Deiksis

PENDAHULUAN
Deiksis merupakan salah satu kajian yang terdapat dalam pragmatik. Deiksis bisa mengambarkan dengan baik tentang sebuah prinsip dalam pragmatik, yaitu semakin banyak hal yang sama-sama diketahui oleh dua orang yang saling bicara, semakin sedikit kata-kata yang harus mereka ungkapkan untuk berkomunikasi. Purwo (1984:1) menyatakan bahwa, “Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Lahirnya sebuah cerpen tidak terlepas dari deiksis persona, tempat, dan waktu, karena dalam sebuah cerpen mengandung unsur persona, tempat, dan waktu yang disampaikan oleh pengarang.
Deiksis persona dapat digambarkan dengan kata ganti orang, mulai dari kata ganti persona tunggal dan jamak misalnya, aku, saya (tunggal) dan kami (jamak). Deiksis tempat dalam cerpen dapat digambarkan dengan lokasi atau suasana yang dialami oleh tokoh misalnya di sana, di sini, dan di situ. Deiksis waktu dalam cerpen dapat digambarkan dengan kapan kejadian yang dialami oleh tokoh misalnya, sekarang, nanti, dan yang akan datang.
Cerpen merupakan cerita pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan kehidupan manusia yang didalamnya mengandung konflik atau pertikaian, namun tidak mengubah nasib tokoh. Walaupun singkat di dalam cerpen terdapat latar yang berisi latar tempat, latar waktu dan latar suasana dalam cerita. Cerpen juga mengisahkan kehidupan manusia secara utuh dari awal sampai akhir sehingga pembaca bisa mendapatkan informasi secara lengkap tentang gambaran kehidupan serta permasalahan yang terjadi pada tokoh. Selain sebagai hiburan, cerpen juga sarat akan nilai dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada masyarakat sebagai cermin hidup sehingga dapat berinteraksi dan bersikap lebih bijak.
Buku kumpulan cerpen BH merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib antara tahun 1977 sampai 1982. Emha Ainun Nadjib atau yang sering dipanggil dengan Cak Nun merupakan seorang sastrawa Indonesia yang telah melahirkan banyak karya. Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Kumpulan cerpen BH merupakan sebuah cerpen yang sarat akan makna kehidupan sosial, serta sindiran-sindiran terhadap kehidupan sosial masyarakat yang dikemas dengan bahasa yang menarik. Bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut sangat lugas dan menggelitik dan seperti tamparan keras bagi yang membacanya. Melalui cerpen tersebut kita diajak untuk berpikir lebih keras untuk memahami pesan yang ingin disampaikan karena dalam cerpen tersebut ditulis dengan bahasa yang sulit untuk dipahami. Cerpen tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber yaitu kompas, sinar harapan, horizon dan zaman. Adapun judul dari buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku itu dengan judul yang sama yaitu BH pada cerpen yang ke-18. Ada 23 cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen BH, yaitu Lelaki ke-1.000 di Ranjangku (1982), Kepada Kelahiranku yang Tercinta (1979), Cerpen Padang Kurusetra (1981), Pesta (1977), Satu Truk Pasir (1979), Sembilan Putra-putri Anugrah Tuhanku (1982), Yang Terhormat Nama Saya (1980), Terjemahan di bumi (1979), Ambang (1978), Tangis (1978), Mimpi Istriku (1979), Lingkaran Dinding (1979), Kepala Kampung (1979), Ijazah (1980), Seorang Gelandangan (1980), Stempel (1980), Podium (1980), BH (1980), Jimat (1980), Di Belakangku (1980), Jabatan (1980), Luber (1981) dan Domino (1982).
Implementasi penelitian ini dapat dilakukan melalui penerapan kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa indonesia. Implementasi ini diterapkan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI semester ganjil dengan KD 3.3 Mengidentifikasi informasi (pengetahuan dan urutan kejadian) dalam teks eksplanasi secara lisan dan tulis. Kemampuan yang difokuskan adalah siswa mampu mengidentifikasi informasi (pengetahuan dan urutan kejadian) dalam teks eksplanasi secara lisan dan tulisan.
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie yang berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan logos berarti ilmu. Morfologi adalah ilmu pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan yang lain. Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Morfem bebas adalah morfem yang secara potensial dapat berdiri sendiri dalam suatu bangun kalimat, misalnya saya, duduk, dan kursi. Morfem terikat adalah morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran, misalnya ber-, meng-, -kan, ter-, wan, man, dan sebagainya. Prokliti dan enkitik termasuk dalam morfem terikat karena tidak bisa berdiri sendiri
Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Bloomfield (dalam Muhadjir 2016:65) mengatakan bahwa, “Kata adalah bentuk bebas terkecil yang mengandung makna”. kata adalah satuan terkecil dalam kalimat yang mengandung makna sehingga dapat berdiri sendiri. Berdasarkan pada klasifikasi jenis kata, promina memiliki hubungan dengan deiksis karena sama-sama merupakan kata ganti baik itu kata ganti orang maupun benda. Chaer (2011:91) mengatakan bahwa, Kata benda yang menyatakan orang sering kali diganti kedudukannya di dalam pertuturan dengan sejenis kata yang lazim disebut kata ganti.
Istilah deiksis berasal dari kata Yunani deiktikos, yang berarti ‘hal penunjukan secara langsung’. Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa, Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Pengertian deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons (dalam Djajasudarma, 2010:51) menjelaskan bahwa, Deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Menurut Cummings (2007: 31) Setiap penjelasan makna dari ujaran-ujaran pada hakikatnya tergantung pada acuan dieksis pada ciri-ciri tertentu suatu konteks.
Ungkapan-ungkapan deiksis kadang kala juga disebut indeksikal (Yule,2014:13). Ungkapan-ungkapan tersebut dapat menunjukan orang dengan deiksis persona (‘ku’, ‘mu’), atau untuk menunjukan tempat dengan deiksis spesial (‘di sini’, ‘di sana’) atau untuk menunjukkan waktu dengan deiksis temporal (‘sekarang’, ‘kemudian’). Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.
Kata “klitika” bila dianalisa berasal dari kata kerja bahasa Yunani ‘klinein’ yang artinya “bersandar. Menurut Verhaar, klitika dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitika adalah klitika pada awal kata dan enklitika terdapat pada akhir kata. Karena semua klitika didekatkan pada kata sebagai ko-konstituennya (konstituen yang menyertainya) (Verhaar, 1993, 61-62). Istilah klitik sering dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu selalu harus bersandar pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya. Suatu klitik paling sedikit dapat berupa kata. Dalam pengertian disini klitik selalu merupakan morfem terikat. Sebagai contoh klitik dalam bahasa Indonesia : akhiran –lah, -kah, dan –pun. Meskipun, imbuhan tersebut mirip dengan afiks, jelas berbeda karena dapat diletakkan pada macam-macam jenis kata (afiksasi selalu merupakan cirri khas dari jenis kata tertentu, seperti kata benda atau kata kerja).
Klitik dibagi menjadi dua dalam pembentukan sebuah kata yaitu, proklitik dan enklitik. Klitik merupakan bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa. Proklitik, merupakan klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya, misalnya bentuk ‘kau’dan ‘ku–’.
Leksikal adalah satu di antara jenis kajian dari semantik. Jenis semantik yang mengkaji arti leksikal kata-kata disebut semantik leksikal. Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturukan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata, pembendaharaan kata). Subroto (2011:31) mengemukan bahwa, arti leksikal adalah arti yang terkandung dalam kata-kata sebuah bahasa yang lebih kurang bersifat tetap. Arti yang demikian biasanya digambarkan dalam sebuah kamus.
Fungsi semantis atau peran semantis adalah aspek dinamis dari kedudukan atau status. Seseorang melaksanakan hak dan kewajiban, berarti telah menjalankan suatu peran. Setiap orang mempunyai bermacam-macam peran yang dijalankan dalam pergaulan hidupnya di masyarakat. Peran menentukan apa yang diperbuat seseorang bagi masyarakat. Peran juga menentukan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Peran diatur oleh norma-norma yang berlaku.
Alwi, dkk. (2014: 341–342) menyebutkan bahwa peran semantis meliputi pelaku, sasaran, pengalam, peruntung, atribut dan keterangan. Pelaku adalah peserta yang melakukan perbutan yang dinyatakan oleh verba predikat. Peran pelaku itu merupakan peran semantis utama subjek kalimat aktif dan pelengkap kalimat pasif.
Sasaran adalah peserta yang dikenai perbuatannya yang dinyatakan oleh verba predikat. Peran sasaran itu merupakan peran utama objek atau pelengkap. Pengalam adalah peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan predikat. Peran pengalam merupakan peran unsur subjek yang predikatnya adjektiva atau verba takransitif yang lebih menyatakan keadaan. Peruntung adalah peserta yang beruntung dan yang memperoleh manfaat dari keadaan, peristiwa, atau perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Partisipan peruntung biasanya berfungsi sebagai objek, atau pelengkap, atau sebagai subjek verba jenis menerima atau mempunyai.
Atribut adalam kalimat yang predikatnya nomina, predikat tersebut mempunyai peran semantis atribut. Alwi, dkk. (2014: 221) mengatakan bahwa, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.
Terdapat peran semantis lain yang berfungsi sebagai keterangan, seperti keteranggan waktu, keterangan tempat, keterangan alat, dan keterangan sumber. Peran semantis yang berfungsi sebagai unsur subjek, objek, dan pelengkap, tidak termasuk dalam fungsi semantis keterangan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa fungsi semantis atau peran semantis dibagi menjadi pelaku, sasaran, pengalam, peruntung, atribut, dan keterangan. Peran ini timbul berdasarkan nomina atau kalimat. Peran semantis keterangan, yaitu kata yang mengandung keterangan waktu, tempat, alat, dan sumber. Tetapi, peran semantis keterangan yang dinyatakan sebagai unsur subjek, objek, dan pelengkap tidak termasuk dalam fungsi semantis keterangan.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode pengumpulan data dan analisis data. Bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.
Data penelitian dikumpulkan dengan metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. Analisis data untuk mendeskripsikan data menggunakan metode deskriptif. Penelitian deskriftif digunakan untuk memecahkan masalah, jenis informasi yang digali dengan penelitian deskriptif yaitu, study kasus, study korelasi, study perbandingan, study evaluasi, study prediksi. Peneliti menggunakan menggunakan metode analisis konteks kalimat atau konteks struktur gramatikal untuk mengelompokkan dan melakukan penelitian mengenai deiksis persona, deiksis tempat dan deiksis waktu.

Langkah Pengumpulan Data
Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data yang dilakukan penulis sebagai berikut. (1) Membaca buku kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib yang dijadikan sumber data. (2) Menyeleksi kalimat yang menggunakan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu. (3) Mengklasifikasikan kalimat yang menggunakan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu. (4) Menganalisis penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu.

Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Peneliti sendiri sebagai instrument kunci. Peneliti berkedudukan sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, penganalisis, penafsiran data, dan pada akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian. (2) Kartu data, digunakan untuk mencatat data-data yang merupakan kalimat-kalimat yang mengandung deiksis persona, tempat, dan waktu. Hal ini untuk memudahkan peneliti untuk mengingat data-data sesuai dengan masalah peneliti. (3) Alat tulis, digunakan untuk mencatat sehingga memudahkan dalam pengumpulan data.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan peneliti sebagai berikut. (1) Menganalisis data bentuk deiksis persona, tempat, dan waktu dalam kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib dengan teknik pemaparan. (2) Menganalisis data arti leksikal deiksis persona, tempat, dan waktu dalam kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib dengan teknik analisis makna konteks dalam kalimat. (3) Menganalisis data fungsi semantik dengan teknik peran semantik. (4) Menyimpulkan hasil analisis bentuk, arti leksikal, dan fungsi semantis.

HASIL PENELITIAN dan  PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Terdapat penggunaan deiksis persona tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona pertama jamak bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. Terdapat penggunaan deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. Terdapat penggunaan deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’ dalam kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib.



Tabel 1
Penggunaan Deiksis Persona, Tempat, dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib

No
Cerpen
Jenis Deiksis
Bentuk
Kalimat
1
Satu Truk Pasir
saya
morfem bebas
-       Saya ingin ganti tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48)
2
Jimat
kamu
Morfem bebas
-       Kamu tahu bahwa roh Gajah Mada nangkring di tanganmu itu oleh usaha pengetahuanmu sendiri atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen ke-19, hlm 203)
3
Ijazah
ia
Morfem Bebas
-       Ia ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
4
Jimat
sini
Morfem bebas
-       “Sepanjang perjalanan dari sini sampai menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata pun terucap,” (cerpen ke-19, hlm 195)
5
Ijazah
sana
Morfem Bebas
-       Tapi paman saya di desa Gombong sana sudah menolong. (cerpen ke-14, hlm 156)
6
Satu Truk Pasir
Sekarang
Morfem Bebas
-       “Kita ke Code sekarang.” (cerpen ke-5, hlm 45)


Arti Leksikal Deisksi Persona, Tempat dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib
Arti leksikal bentuk ‘saya’ adalah kata ganti orang pertama tunggal untuk menggantikan orang yang berbicara. Kata ganti persona pertama tunggal bentuk ‘saya’ dapat digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi. Seperti yang terdapat dalam potongan kalimat di bawah ini.
-            “Pasir?” Pak Kodrat bertanya.
“Ya!” jawab Pak Gondo sambil dengan gagah turun dari truknya.
“Mau dibawa kemana?”
“Ke mana? Ini telah sampai ke tujuannya!”
“Ada rencana baru rupanya?”
Pak Gondo tersenyum. “Saya ingin ganti tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48)
Terdapat penggunaan deiksis persona pertama tunggal bentuk ‘saya’ pada kalimat di atas. Bentuk ‘saya’ mengacu kepada endofora yang anaforis, karena kata acuannya sudah di sampaikan sebelumnya. Kata ganti ‘saya’ merujuk kepada tokoh Pak Gondo. Bentuk ‘saya’ timbul ketika Pak Gondo mengatakan kepada tetangganya Pak Kodrat bahwa ia ingin mengganti tembok kayu rumahnya dengan tembok bata.
Arti leksikal ‘kamu’ adalah kata ganti yang digunakan untuk orang kedua tunggal sebagai sapaan (dalam ragam akrab atau kasar). Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-            “Ji, Ji,” tanya seorang teman, “kamu tahu bahwa roh Gajah Mada nangkring di tanganmu itu oleh usaha pengetahuanmu sendiri, atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen ke-19, hlm 203)
Terdapat penggunaan deiksis persona kedua tunggal bentuk proklitik ‘kamu’ pada percakapan di atas. Bentuk ‘kamu’ mengacu kepada endofora yang anaforis, karena acuannya ada dalam kalimat yang berada pada kata sebelumnya. Kata ganti ‘kamu’ merujuk kepada tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ dipakai karena teman itu sudah akrab dengan tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ timbul ketika salah seorang teman Aji bertanya apakah tokoh Aji mengetahui ada roh Gajah Mada di tangannya itu karena karena usahanya sendiri atau diberi tahu oleh Pak Sampan.
Arti leksikal ‘ia’ adalah sebagai kata ganti untuk merujuk orang yang dibicarakan, tidak termasuk pembicara dan kawan bicara. Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-            “Aku tadi barusan ke rumah Hardi,” katanya sambil berjalan, “ternyata nggak ada. Ia ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
Terdapat penggunaan deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’ pada potongan percakapan di atas. Bentuk ‘ia’ mengacu kepada endofora yang anaforis, karena acuannya berada dalam teks yang disebutkan sebelumnya. Pronomina ‘ia’ merujuk kepada tokoh Hardi. Bentuk ‘ia’ timbul ketika tokoh Bambang sedang berbicara kepada tokoh ‘aku’. Bambang menceritakan bahwa ia tadi pergi kerumah tokoh Hardi, tapi ternyata Hardinya tidak ada karena ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.
Arti leksikal ‘sini’ merujuk kepada tempat (tempat yang dekat dengan pembicara). Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-            Akhirnya giliran kami tiba. Aji menyeretku mendekati Pak Sampan. Aku tunduk, menaruh kedua tangan di atas paha, dan berusaha bersikap seramah mungkin.
“Jadi berangkat?”
“Jadi Pak,” jawab Aji.
“Sepanjang perjalanan, dari sini sampai menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata pun terucap.” (cerpen ke-19, hlm 195)
Terdapat penggunaan deiksis tempat proksimal bentuk ‘sini’ dalam potongan percakapan di atas. Bentuk ‘sini’ mengacu kepada eksofora, karena acuannya berada di luar teks. Deiksis tempat ‘sini’ merujuk rumah Pak Sampan. Bentuk ‘sini’ timbul ketika Pak Sampan menyuruh tokoh Aji untuk tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari rumahnya sampai menginjak gerbang Trowulan.
Arti leksikal ‘sana’ merujuk kepada tempat yang jauh (atau dianggap jauh) dari pembicara. Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-            “Dari dulu aku selalu ingin mendekati anak putri,” katanya lagi. “Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tapi paman saya di desa Gombong sana sudah menolong. Menghubungkan aku dengan seorang putri. Aku juga sudah kirim tulisan-tulisanku di koran dan majalah, juga piagam dan ijazah... sekarang saya sedang menunggu suratnya. (cerpen ke-14, hlm 156)
Terdapat penggunaan deiksis tempat distal ‘sana’ pada kalimat paragraf di atas. Bentuk ini mengacu kepada endofora yang anaforis, karena acuannya berada dalam teks yang disampaikan sebelumnya. Deiksis tempat distal ‘sana’ merujuk kepada desa Gombong. Bentuk ‘sana’ timbul ketika tokoh Bambang mengatakan kepada tokoh ‘aku’ bahwa ia sudah lama ingin mendekati anak perempuan tapi ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi sekarang pamannya yang berada di desa Gombong sudah menolongnya untuk menghubungkan dengan seorang perempuan.
Arti lesikal ‘sekarang’ digunakan untuk menyatakan waktu saat ini atau kini.  Seperti yang terdapat dalam potongan percakapan di bawah ini.
-            Gondo beranjak tanpa peduli. Keluar warung. Segera dipanggilnya Suhar, kernertnya.
“Ya Pak!” jawab sang kernet. Loncat bangun ia dari kantuknya di bangku panjang samping warung.
“Kita ke Code sekarang.”
“Ada angkutan?”
“Tidak! Kita beli pasir!” (cerpen ke-5, hlm 45)
Terdapat penggunan deiksis waktu kini bentuk ‘sekarang’ pada potongan percakapan di atas. Bentuk ‘sekarang’ merujuk kepada waktu sekarang atau saat itu juga. Bentuk ‘sekarang’ timbul ketika Gondo berbicara dengan Suhar, kernetnya. Tokoh Gondo mengajak Suhar untuk pergi ke Code untuk membeli pasir.

Fungsi Semantis Deisksi Persona, Tempat dan Waktu dalam Kumpulan Cerpen BH Karya Emha Ainun Nadjib
-            “Pasir?” Pak Kodrat bertanya.
“Ya!” jawab Pak Gondo sambil dengan gagah turun dari trunya.
“Mau dibawa kemana?”
“Ke mana? Ini telah sampai ke tujuannya!”
“Ada rencana baru rupanya?”
Pak Gondo tersenyum. “Saya ingin ganti tembok kayu ini dengan tembok bata,” katanya. (cerpen ke-5, hlm 48).
Fungsi semantis ‘saya’ pada kalimat di atas adalah sebagai pelaku, karena merupakan subjek. Pelaku adalah peserta yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba predikat. Pronomina ‘saya’ merujuk kepada tokoh Pak Gondo. Bentuk ‘saya’ timbul ketika Pak Gondo sedang berbicara kepada Pak Kodrat, tetangganya. Pak Gondo mengatakan kepada Pak Kodrat bahwa ia ingin mengganti tembok kayu rumahnya dengan tembok bata ketika Pak Kodrat bertanya apa ia punya rencana baru.
-            “Ji, Ji,” tanya seorang teman, “kamu tahu bahwa roh Gajah Mada nangkring di tangganmu itu oleh usaha pengetahuanmu sendiri, atau dikasih tahu oleh Pak Sampan?” (cerpen ke-19, hlm 203)
Fungsi semantis bentuk ‘kamu’ pada kalimat di atas adalah sebagai pengalam, karena merupakan subjek. Pengalam adalah peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan predikat. Kata ganti persona kedua ‘kamu’ merujuk kepada tokoh Aji. Bentuk ‘kamu’ timbul ketika salah seorang teman Aji bertanya apakah tokoh Aji mengetahui ada roh Gajah Mada di tangannya itu karena karena usahanya sendiri atau dikasih tahu oleh Pak Sampan.
-            “Aku tadi barusan ke rumah Hardi,” katanya sambil berjalan, “ternyata nggak ada. Ia ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta.” (cerpen ke-14, hlm 155)
Fungsi semantis ‘ia’ pada kalimat di atas adalah sebagai pengalam. Pengalam adalah peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan predikat. Pronomina ‘ia’ merujuk kepada tokoh Hardi. Bentuk ‘ia’ timbul ketika tokoh Bambang sedang berbicara kepada tokoh ‘aku’. Bambang menceritakan bahwa ia tadi pergi kerumah tokoh Hardi, tapi ternyata Hardinya tidak ada karena ditangkap polisi dan di tahan di Jakarta.
-            Akhirnya giliran kami tiba. Aji menyeretku mendekati Pak Sampan. Aku tunduk, menaruh kedua tangan di atas paha, dan berusaha bersikap seramah mungkin.
“Jadi berangkat?”
“Jadi Pak,” jawab Aji.
“Sepanjang perjalanan, dari sini sampai menginjak gerbang Trowulan, tidak ada sepatah kata pun terucap.” (cerpen ke-19, hlm 195)
Fungsi semantis ‘sini’ pada kalimat di atas merupakan fungsi semantis keterangan tempat. Deiksis tempat ‘sini’ merujuk kepada rumah Pak Sampan. Bentuk ‘sini’ timbul ketika Pak Sampan menyuruh tokoh Aji untuk tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari rumahnya sampai menginjak gerbang Trowulan.
-            “Dari dulu aku selalu ingin mendekati anak putri,” katanya lagi. “Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tapi paman saya di desa Gombong sana sudah menolong. Menghubungkan aku dengan seorang putri. Aku juga sudah kirim tulisan-tulisanku di koran dan majalah, juga piagam dan ijazah... sekarang saya sedang menunggu suratnya. (cerpen ke-14, hlm 156)
Fungsi semantis ‘sana’ pada kalimat di atas merupakan fungsi semantis keterangan tempat. Deiksis tempat distal ‘sana’ merujuk kepada desa Gombong. Bentuk ‘sana’ timbul ketika tokoh Bambang mengatakan kepada tokoh ‘aku’ bahwa ia sudah lama ingin mendekati anak perempuan namun ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi sekarang pamannya yang berada di desa Gombong sudah menolongnya untuk mengenalkannya dengan seorang perempuan, dan sekarang ia sedang menunggu suratnya.
-            Gondo beranjak tanpa peduli. Keluar warung. Segera dipanggilnya Suhar, kernertnya.
“Ya Pak!” jawab sang kernet. Loncat bangun ia dari kantuknya di bangku panjang samping warung.
“Kita ke Code sekarang.”
“Ada angkutan?”
“Tidak! Kita beli pasir!” (cerpen ke-5, hlm 45)
Terdapat penggunan deiksis waktu kini bentuk ‘sekarang’ pada potongan percakapan di atas. Bentuk ini merujuk kepada waktu sekarang atau saat itu juga. Deksis waktu kini bentuk ‘sekarang’ digunakan untuk menyatakan waktu saat ini atau sekarang. Fungsi semantis ‘sekarang’ pada kalimat di atas adalah fungsi semantis keterangan waktu. Bentuk ‘sekarang’ timbul ketika Gondo berbicara dengan Suhar, kernetnya. Tokoh Gondo mengajak Suhar untuk pergi ke Code untuk membeli pasir.

SIMPULAN dan SARAN
Simpulan
Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa. (1) Terdapat penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (a) Terdapat lima penggunaan deiksis persona pertama tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Dua deiksis persona pertama jamak bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Lima deiksis deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Satu deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Empat deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Satu deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. (b) Terdapat tiga penggunaan deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Tiga deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. (c) Terdapat dua penggunaan deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Tiga Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Dua deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’. (2) Arti leksikal deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (a) Deiksis persona pertama tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona pertama jamak bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. (b) Deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. (c) Deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’. (3) Fungsi semantis deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (a) Deiksis persona pertama tunggal bentuk ‘saya’, ‘aku’, ‘hamba’, ‘ku-’ dan ‘-ku’. Deiksis persona pertama jamak bentuk ‘kita’ dan ‘kami’. Deiksis persona kedua tunggal bentuk ‘anda’, ‘engkau’, ‘kau’, ‘kamu’, dan ‘-mu’. Deiksis persona kedua jamak bentuk ‘kalian’. Deiksis persona ketiga tunggal bentuk ‘ia’, ‘dia’, ‘beliau’, dan ‘-nya’. Deiksis persona ketiga jamak bentuk ‘mereka’. (b) Deiksis tempat bentuk proksimal ‘sini’, ‘di sini’, dan ‘ke sini’. Deiksis tempat distal bentuk ‘sana’, ‘di sana’ dan ‘ke sana’. (c) Deiksis waktu kini bentuk ‘kini’ dan ‘sekarang’. Deiksis waktu lampau bentuk ‘dulu’, ‘kemarin’, dan ‘tadi’. Deiksis waktu yang akan datang bentuk ‘besok’ dan ‘lusa’.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, dapat diperoleh saran sebagai berikut. (1) Pembaca diharapkan mampu memahami penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (2) Pembaca diharapkan bisa membedakan penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib. (3) Penelitian ini bagi mahasiswa dapat dijadikan referansi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu. (4) Penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu, oleh karena itu, terbuka bagi mahasiswa lain untuk meneliti deiksis lain yang terdapat pada kumpulan cerpen BH karya Emha Ainun Nadjib.
DAFTAR RUJUKAN
Alwi, Hasan, dkk.. 2014. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Cummings, Louise. 2007. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaer, Abdul. 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.
Muhadjir. 2014. Semantik dan Pragmatik. Tangerang: Pustaka Mandiri.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Subroto, Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yule, George. 2014. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.